Pages

Sabtu, 08 Desember 2012



SEPEDA LIPAT


SEMAKIN digalakkannya sarana transportasi massal di kota-kota besar membuat sepeda lipat kembali naik daun. Sepeda yang sejatinya sudah ada di pasaran Indonesia sejak lebih dari sepuluh tahun lalu ini menjadi pilihan para pengguna angkutan umum.

Bagi pengguna bus transJogja atau transJakarta, misalnya. Jauhnya letak shelter dari tempat tinggal atau kantor dapat diakali dengan menggunakan sepeda lipat. Dari rumah ke shelter naik sepeda lipat, lalu begitu sampai di shelter sepeda bisa dilipat dan dibawa ke atas bis. Turun dari bis perjalanan bisa dilanjutkan dengan bersepeda lipat lagi.

Tidak hanya untuk angkutan umum dalam kota, sepeda lipat juga dapat dibawa dalam perjalanan luar kota. Seperti Sri Kahana, penggagas komunitas Jogja Folding Bike (JFB). Karyawan Penerbit Kanisius ini sering membawa sepeda lipat kesayangannya bila mendapat tugas keluar kota.

“Dari rumah ke stasiun naik sepeda lipat, kemudian sepeda dilipat dan dinaikkan ke atas gerbong. Setelah sampai di tujuan, sepeda bisa dibuka lagi,” cerita Kahana saat saya temui di rumahnya pertengahan April 2009 lalu.

Sepeda lipat dapat pula dibawa bepergian dengan pesawat. Bobotnya yang hanya 11 kg membuatnya bisa ditaruh di bagasi.

Banyak pilihan
Add caption

KIAN banyaknya peminat sepeda lipat membuat produsen semakin kreatif dalam menciptakan produk-produknya. Kalau dulu pilihannya sangat terbatas, kini terdapat bermacam-macam model.



Menurut Sonny, pemilik toko sepeda Adi Mitra di bilangan Jl. Kol. Sugiono, Jogja, bentuk sepeda lipat sangat dipengaruhi oleh ukuran rodanya. Ada sepeda lipat dengan roda berukuran 16, 20 dan 26 inci. Semakin kecil ukuran rodanya, semakin ringkas sepeda tersebut dapat dilipat.

“Kalau mencari yang semakin ringkas lipatannya, berarti harus mencari yang ukuran rodanya kecil,” jelas Sonny saat saya temui di tokonya, Kamis, 14 Mei 2009, lalu.
Sisi minusnya, sepeda lipat dengan roda kecil keseimbangannya kurang baik jika dikendarai orang dewasa. Meminjam istilah Sonny, perasaan seperti limbung lebih terasa di sepeda lipat dengan roda kecil. Selain itu, daya jangkaunya juga pendek sehingga tidak bisa dipakai kebut-kebutan.

Sepeda lipat dengan ukuran roda 26 inci tidak dianjurkan bagi para commuter alias pengguna transportasi massal. Pasalnya, dengan ukuran roda sebesar itu sepeda masih tetap berukuran besar kendati sudah dilipat.

“Memilih sepeda lipat harus disesuaikan dengan keperluannya,” kata Sonny lagi. Dan yang perlu dicatat, sepeda lipat bukanlah sepeda untuk perjalanan jarak jauh. Kalau dipaksakan bisa saja sepeda lipat dipakai bepergian jauh, namun hal ini akan membuatnya lebih cepat rusak.

Karena itu Sonny menyarankan agar sebelum memutuskan membeli, konsumen harus tahu dulu kenapa dia memerlukan sepeda lipat. Banyak orang kecewa setelah membeli sepeda lipat karena ternyata tidak bisa dipakai bepergian jauh.



Sesuaikan kebutuhan
Di Jogja sudah cukup banyak toko sepeda yang menjual sepeda lipat. Toko-toko seperti Adi Mitra atau Tri Jaya bahkan menyediakan beragam pilihan model dan harga.

“Rentang harganya sangat beragam. Tergantung pembeli, mau memilih merek atau memilih harga,” kata Halim, pemilik toko sepeda Tri Jaya, ketika saya temui di tokonya, Rabu, 13 Mei 2009 lalu.

Bagi pembeli dengan anggaran terbatas, terdapat beberapa model sepeda lipat dari Cina dengan harga bersahabat. Contohnya merek Forever yang hanya dibanderol Rp500.000. Hanya saja modelnya kurang menarik karena masih menggunakan desain lama yang mirip sepeda mini.

Ada pula sepeda lipat bermerek Gekko yang dijual mulai harga Rp1.350.000. Ini juga buatan Cina. Modelnya sudah menarik seperti sepeda lipat pada umumnya. Namun ukurannya terlalu kecil untuk dikendarai orang dewasa.

“Mau yang mahal juga ada, seperti Dahon atau Giant,” kata Halim lagi.

Kalau mau sepeda lipat berkualitas baik namun dengan harga terjangkau, merek lokal seperti Polygon bisa jadi pilihan. Kelebihan merek lokal, garansinya lebih jelas dan pengajuan klaimnya lebih mudah dilakukan. (bungeko)

Serbaneka sepeda lipat:
1.Sepeda lipat hanya untuk jalan rata yang beraspal. Karena itu jangan sekali-kali memakai sepeda lipat di medan-medan berat (offroad) atau untuk freestyle.

2.Sepeda lipat umumnya tidak memiliki shock depan, sehingga sangat disarankan untuk sebisa mungkin menghindari jalan berlubang atau tidak rata seperti polisi tidur.

3.Tidak disarankan mencuci sepeda lipat dengan semprotan air yang keras/deras. Hal ini untuk menghindari masuknya air ke sela-sela komponen yang dapat menyebabkan karat. Cukup siram perlahan dan bersihkan dengan lap.

4.Sebelum membeli, perhatikan baik-baik ukuran roda dan dimensi sepeda setelah dilipat. Kalau sepeda lipat akan sering dibawa bepergian, cari yang dimensi lipatannya kecil.

5.Harga sangat berpengaruh pada kerapian detil, kemudahan melipat, tingkat presisi, dan kelengkapan tambahan.

6.Bila dipakai dengan baik dan dijaga kebersihannya, sepeda lipat bisa awet dalam waktu sangat lama. (bungeko)
Add caption

Peta sepeda lipat (lihat gambar):
1. Stang, bagian yang bisa ditarik
2. Pengatur tinggi-rendah stang
3. Stang bagian bawah
4. Panel pengunci lipatan stang
5. Batang sadel yang bisa diturunkan
6. Pengatur tinggi-rendah sadel
7. Panel lipatan rangka
8. Pedal
9. Gir rantai
10. Rantai
11. Front fender
12. Tempat pengaturan gigi/speed
13. Pelek roda
14. Bagasi
15. Roda
16. Sadel
17. Tempat botol minuman

0 komentar:

Poskan Komentar